Sunday, April 26, 2009

Pita 8 "Kerja Bukanlah Kesenangan"

Uraian tentang bekerja dalam Perjanjian Lama memberikan gambaran yang sangat suram. Kerja dianggap hukuman dari dosa-dosa, dan manusia harus menggunakan sebagian besar waktu jaganya untuk bekerja keras membanting tulang agar supaya dapat bertahan hidup. Maka, dari Kitab Kejadian terlahirlah sebuah nilai yang menjalar : kerja bukanlah untuk dinikmati. Abraham Lincoln mengungkapkan pengertian ini ketika dia mengatakan “ Ayah saya mengejar saya untuk bekerja, tetapi tidak untuk mencintainya. Saya benar-benar tidak pernah suka bekerja, dan saya tidak mengingkarinya. Saya lebih suka membaca menceritakan kisah-kisah, bergurau, bercakap-cakap,tertawa, atau apa saja kecuali bekerja.”

Dari semua kisah yang diprogramkan, nampaknya kita telah membuat kemajuan dalam menghilangkan anggapan yang satu ini. Kebanyakan dari kita menyadari bahwa pemerasan enerji mental dan fisik merupakan hal yang wajar. Kerja dapat suatu kenikmatan, sangat tidak menyenangkan atau diantara keduanya, tergantung dari individu dan macam pekerjaan itu sendiri. Kesulitan dalam mengikuti pita ini adalah bahwa bila anda berkeyakinan bahwa hanya ketidaknyamanan saya yang terkandung dalam bekerja , maka itulah semua yang akan anda peroleh.

Anda menanggung resiko tinggi apabila denagn cepat anda mengubah kepuasan-kepuasan hidup terbesar yang ada pada diri sendiri.

Pita 7 "Kerja Keras Adalah Bijaksana"

Salah satu tradisi yang terdapat dalam masyarakat kita mengatakan bahwa ada kebijaksanaan dan kemulyaan dalam bekerja keras. “Dia adalah seorang pekerja keras” atau “ Sebenarnya dia itu gesit”, dianggap sebagai pujian yang tinggi. Pengertian bahwa “Kerja itu sendiri adalah baik” dan bahwa seorang pria atau wanita yang bekerja itu tidak hanya memberikan sumbangan pada rekan-rekan prianya saja, tetapi menjadikannya serang yang lebih baik dengan kebijaksanaan kegiatan kerjanya, demikian kuat tertanam di dalam benak kita, sehingga tidak dapat menangani perasaan-perasaan bersalah dan tidak pantas bila menjadi pengangguran. Bahkan ada yang sampai bertekad mengakhiri kehidupan mereka. Mereka itu bunuh diri. Di antara nilai-nilai di dalam masyarakat kita, yang satu ini hampir tidak tertandingi.

Adanya anggapan bahwa setiap kegiatan manusia harus mengikut-sertakan seratus persen kebijaksanaan yang tidak terpisahkan satu dengan yang lainnya, perlu dipertanyakan. Kerja keras dapat menjadikan beberapa orang berhasil, dapat juga menghancurkan orang-orang lain. Hal ini tergantung pada pribadi dan jenis pekerjaannya. Dari semua hal yang telah saya baca, saya yakin, akan amanlah untuk beranggapan bahwa Hitler adalah seorang pekerja keras. Bila ada kemuliaan di dalam karyanya, saya benar-benar tidak mampu untuk melihatnya.

Pita 6 “Cara Yang Mudah Adalah Cara Yang Terbaik”

Ketika Linus, ahli filsafat yang besar, mengatakan, “Tidak ada masalahyang sedemikian besar atau sedemikian rumitnya sehingga tidak dapat dihindari”, dia menunjuk pada sebuah kisah mitos tentang cara mengambil jalan keluar yang mudah. Sering kali pita “Cara Yang Mudah” dipergunakan oleh mereka yang sebelumnya mengikuti pita “Kerja Keras”. Ketika semua pekerjaan mereka tidak mampu lagi memberikan hasil yang seperti diharapkan, mereka menjadi sangat kecewa. Mereka tidak memeriksa situasi dengan pemikiran nalar dan mencoba mempelajarinya, tetapi hanya menggeser sebuah pita dan menggantinya dengan pita yang lain.

Mereka menempuh cara yang mudah dalam kehidupan ini tidak menyadari, atau memilih untuk mengabaikan teori investasi kerja. Sayangnya, pada umumnya mereka menemukan bahwa jalur pertahanan dengan hambatan yang terkecil ternyata mengandung suatu harga tingga yang tersembunyi.

Mereka agaknya tidak pernah mempelajari salah satu kebenaran hidup yang terbesar , “Hidup itu Sulit”. Dari lahir sampai mati, hidup itu merupakan suatu proses penyelesaian persoalan. Semakin tinggi disiplin kita, semakin tinggi pula kemampuan kita untuk menyelesaikan masalah-masalah kehidupan yang muncul. Semakin banyak kita menyelesaikan masalah, kehidupan kita akan semakin mudah dan semakin besar kesempatan kita untuk mencapai tujuan-tujuan yang penting bagi kita. Mereka yang mengambil jalan keluar yang mudah sama saja menempuh pendekatan tambal sulam jangka pendek atas kehidupan, melepaskan demikian saja hari esok yang seharusnya perlu diraih. Kenyataannya adalah bahwa tidak ada sesuatu yang mudah.
Jalur pertahanan dengan hambatan yang terkecil adalah untuk mereka yang kalah.